KABUPATEN SEMARANG || viralindonesianews.com || 23-September-2026, — Pengerjaan proyek irigasi di Desa Jatirunggo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, menuai sorotan warga. Kegiatan yang tercantum sebagai program Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana tersebut dipertanyakan dari sisi keterbukaan pelaksanaan maupun kualitas pekerjaan fisiknya.
Warga bahkan menyebut proyek tersebut layak mendapat perhatian serius karena minimnya informasi yang diketahui masyarakat mengenai proses pelaksanaannya. Istilah “proyek siluman” pun muncul di tengah warga, meski status dan mekanisme pelaksanaan kegiatan tersebut masih perlu diklarifikasi oleh pihak terkait.
Berdasarkan prasasti yang terpasang di lokasi, kegiatan tersebut merupakan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) Tahun Anggaran 2026, di bawah Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air Pemali Juana, Kementerian Pekerjaan Umum.
Kegiatan tercatat berada di Daerah Irigasi Petet, Desa Jatirunggo, dengan P3A Dadi Lancar sebagai pelaksana yang tercantum dalam prasasti.
Diduga Dikerjakan Pihak Ketiga
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian warga adalah dugaan keterlibatan pihak ketiga dalam pengerjaan fisik.
Meski P3A Dadi Lancar tercantum sebagai pelaksana, warga menduga pekerjaan di lapangan justru dikuasai seorang borong atau pemborong berinisial JT, yang disebut-sebut merupakan mantan kepala dusun setempat.
Dugaan tersebut perlu diklarifikasi kepada P3A Dadi Lancar maupun BBWS Pemali Juana, khususnya mengenai mekanisme pelaksanaan pekerjaan dan sejauh mana keterlibatan pihak lain dalam kegiatan tersebut.
Sebab, apabila mengacu pada tujuan program P3-TGAI, pelaksanaan kegiatan pada prinsipnya diarahkan untuk melibatkan dan memberdayakan masyarakat petani melalui kelembagaan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A).
Kondisi Fisik Bangunan Dipertanyakan
Sorotan berikutnya berkaitan dengan kondisi fisik bangunan irigasi.
Dari pantauan di lokasi, pasangan batu dan bagian plesteran dinding irigasi terlihat kurang rapi. Pada salah satu bagian bawah dinding juga tampak lubang yang cukup besar, yang terlihat ditutupi menggunakan bongkahan batu lepas dan material lainnya.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran warga mengenai potensi kebocoran serta ketahanan bangunan, terlebih ketika debit air meningkat.
Selain itu, sejumlah bagian pada sisi dan bagian atas pasangan semen tampak memiliki retakan halus serta hasil finishing yang dinilai kurang rapi.
Warga mempertanyakan apakah pekerjaan tersebut telah melalui pemeriksaan kualitas dan pengawasan teknis sebagaimana mestinya.
Minta BBWS Turun ke Lapangan
Warga berharap Tim Pendamping Masyarakat (TPM) dan pihak BBWS Pemali Juana segera turun ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.
Pemeriksaan dinilai penting untuk memastikan kesesuaian antara pekerjaan yang terpasang di lapangan dengan spesifikasi teknis, mekanisme pelaksanaan, serta ketentuan program P3-TGAI.
“Jangan sampai anggaran negara sudah dikucurkan, tetapi hasil pembangunan justru tidak bertahan lama dan akhirnya merugikan petani,” demikian kekhawatiran warga.
Hingga berita ini disusun, dugaan mengenai keterlibatan pihak ketiga serta persoalan kualitas pekerjaan tersebut masih memerlukan klarifikasi dari P3A Dadi Lancar, TPM, dan BBWS Pemali Juana.
Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi seluruh pihak yang disebutkan dalam pemberitaan ini guna memastikan informasi yang disampaikan berimbang dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sumber : Hendra
Tim/Red







