Laporan : Bram Ezhar
Editor : Yogie Ps
Biak, Papua || viralindonesianews.com– Gelombang pemutaran film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Laksono terus menjadi perhatian publik di berbagai daerah di Indonesia. Di Kabupaten Biak Numfor, Papua, sejumlah elemen mulai dari pemuda adat, organisasi kemahasiswaan hingga pemuda gereja secara masif menggelar kegiatan nonton bareng (Nobar) yang dirangkaikan dengan diskusi publik.
Salah satu kegiatan Nobar dan diskusi publik tersebut digelar oleh Badan Pengurus Cabang (BPC) Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Biak melalui Bidang Aksi dan Pelayanan (Akspel). Kegiatan itu diinisiasi bersama DPRP Papua, Seksi PAM GKI Biak Selatan dan Papuan Voice pada Jumat (15/5/2026) di halaman Kantor GKI Klasis Biak Selatan.
Gelombang Nobar kemudian berlanjut di lingkungan gereja dan masyarakat adat. Pemuda Adat bersama Jemaat GKI Abigail KBS Yafdas kembali menggelar Nobar pada Minggu (17/5/2026) malam di halaman GKI Abigail KBS Yafdas.
Ketua Bidang Aksi dan Pelayanan (Akspel) BPC GMKI Biak, Jovan Yoga Fabanyo, mengatakan rangkaian kegiatan tersebut merupakan bentuk solidaritas dan kepedulian terhadap masyarakat adat di Papua Selatan, khususnya di wilayah Merauke dan sekitarnya.
Menurutnya, masyarakat adat saat ini tengah menghadapi ancaman terhadap ruang hidup mereka akibat proyek-proyek yang diklaim sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN).
“Ruang hidup mereka dirampas tanpa adanya persetujuan dari tokoh atau pemimpin adat setempat. Film ini bukan hanya sekadar bukti perlawanan, tetapi juga menjadi inspirasi bagi masyarakat adat lainnya di Nusantara untuk hidup rukun, kuat, dan kompak melawan praktik kolonialisme gaya baru di masa kemerdekaan ini,” ujar Jovan kepada wartawan saat menghadiri Nobar di GKI Abigail Yafdas, Minggu (17/5/2026).
Jovan juga mendorong lembaga gereja untuk mengambil sikap lebih aktif dalam menyuarakan hak-hak masyarakat adat. Ia meminta seluruh denominasi gereja di Indonesia, khususnya di Tanah Papua dari Raja Ampat hingga Merauke, terlibat dalam upaya advokasi dan perlindungan masyarakat adat.
Secara khusus, ia berharap Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua dapat memberikan perhatian serius dengan menginstruksikan warga jemaat menggelar Nobar film Pesta Babi sekaligus menyatakan sikap terhadap proyek pembangunan yang dinilai mengancam hak hidup masyarakat adat.
“Mengapa gereja harus mengambil sikap? Karena ada hubungan eksistensial yang kuat di mana jemaat gereja adalah masyarakat adat itu sendiri. Orang yang beribadah di gereja setiap hari Minggu adalah orang yang sama yang tanah adatnya sedang terancam oleh proyek pembangunan atau konsesi korporasi,” tegasnya.
Ia menilai gereja akan kehilangan relevansi apabila hanya berdiam diri ketika ruang hidup jemaatnya mengalami ancaman. Menurutnya, gereja tidak hanya bertugas menggembalakan kehidupan rohani umat, tetapi juga harus hadir membela hak-hak dasar masyarakat.
Lebih lanjut, Jovan meminta lembaga gereja secara resmi menyuarakan penolakan terhadap praktik pembangunan yang dianggap represif serta mendorong pemerintah agar melakukan sosialisasi secara transparan dan humanis kepada masyarakat adat.
“Hak ulayat bukan hanya soal kepemilikan tanah, tetapi menyangkut harga diri, identitas budaya, dan masa depan generasi. Ketika hak tersebut dirampas secara tidak adil, gereja memiliki kewajiban moral dan iman untuk berdiri bersama masyarakat adat sebagai voice for the voiceless,” pungkasnya.
Sebagai informasi, film dokumenter Pesta Babi bertema “Kolonialisme di Zaman Kita” belakangan ramai diperbincangkan di berbagai daerah. Sejumlah agenda pemutaran film dan diskusi publik di beberapa kota bahkan memicu polemik serta perdebatan di ruang publik.
Redaksi : viralindonesianews.com






